Bila melihat dari kaca mata sejarah, FIFA telah menjatuhkan sanksi
kepada 8 negara yang notabene akar permasalahannya adalah karena campur
tangan pemerintah dalam kepengurusan sepak bola di negara tersebut.
Namun ada dua permasalahan yang perlu kita telusuri ebih lanjut mengenai
dua peristiwa yang sempat terjadi di Brunei Darussalam pada tahun 2009
dan juga Irak pada tahun yang sama.
Peristiwa pemberian sanksi Brunei Darussalam terjadi pada saat Sultan
Brunei membentuk kepengurusan baru federasi sepak bola di negaranya dan
sampai saat ini sanksi tersebut belum juga dicabut. Sedangkan Irak
mengalami pertikaian antara dua kubu yaitu yaitu IFA (Federasi Sepak
Bola Irak) dengan Komite Olimpiade Irak. Baru pada bulan Maret 2010 FIFA
mencabut sanksi mereka karena kekisruhan sudah berhasil diselesaikan.
Perlu diingat juga pada tahun 2007, Irak nyaris mendapatkan sanksi
setelah pemerintahnya berniat membubarkan IFA.
Menghubungkan dengan polemik dualisme PSSi di sepakbola Indonesia,
pemerintah (dalam hal ini Menpora ataupun Presiden) janganlah sampai
turun tangan untuk ikut campur mengintervensi permasalahan kekisruhan
PSSI dan KPSI. Memang tentunya banyak pihak yang menginginkan tindakan
tegas dari pemerintah, namun jangan sampai berlanjut pada tindakan
intervensi secara langsung. Cukuplah dengan himbauan dan juga peringatan
agar para pengurus sepak bola tanah air bahwa tindakan 'kampungan'
mereka malah akan membuat kondisi sepak bola kita semakin terpuruk.
Belum lagi kasus pemain yang tidak digaji oleh klub, termasuk kasus
Diego Mendieta, pemain asing asal Paraguay yang bermain di klub Persis
Solo. Dia menderita sakit parah sehingga akhirnya harus meninggal dunia,
dan ia pun tidak mampu membayar biaya penyembuhan karena belum digaji
dan tidak dibantu oleh klubnya selama berbulan-bulan! Kasus ini juga
akan dipertimbangkan oleh FIFA dan ada kemungkinan PSSI akan dibekukan
oleh FIFA selama 20 tahun!
Lalu kira-kira perlukah kita merasa takut terhadap ancaman sanksi FIFA?
Tentu saja perlu bro. Sebagai otoritas sepak bola tertinggi yang diakui
dunia, peranan FIFA sangatlah besar terhadap kemajuan sepak bola suatu
negara. Peranan FIFA adalah sebuah pengakuan bahwa ada sebuah negara,
yaitu Indonesia yang menjadikan sepak bola sebagai salah satu olahraga
masyarakat di negara tersebut.
Tanpa ada pengakuan dari FIFA, Indonesia tidak dianggap sebagai suatu
negara yang memainkan sepak bola sebagai salah satu olahraga mereka.
Ribuan pemain sepak bola nasional yang mengadu nasib hanya akan
merasakan kompetisi sepak bola sekelas liga tarkam (antar kampung) dan
bukan tidak mungkin gaji mereka akan turun sangat drastis.
Gengsi yang tercermin dari rasa bangga masyarakat tidak akan terasa
gegap gempita lagi dalam membela sepak bola tanah air, karena Indonesia
tidak akan berlaga di turnamen internasional manapun karena tidak diakui
FIFA. Jadi kesimpulannya, tentu saja para pengurus PSSI dan KPSI harus
berkepala dingin mencari jalan damai dan meleburkan kepungurusan menjadi
satu sehingga bisa mengikuti statuta FIFA yang berlaku dan terhindar
dari sanksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar