![]() |
TIMNAS |
Dualisme telah terhapuskan dan Indonesia terbebas dari sanksi FIFA.
Susunan pemain tidak lagi dipengaruhi oleh kepentingan dari suatu badan
liga. Semua pemain bersatu dan pada akhirnya pelatih mempunyai kebebasan
dalam menentukan pilihan pemain. Intinya bro, bisa dibilang bahwa
Timnas Garuda Senior kita telah bersatu. Sejauh ini, inilah berita
terbaik yang bisa kita dengar di tengah kekisruhan sepak bola nasional
dalam beberapa tahun terakhir.
Setelah kekisruhan berhasil dibereskan, sekaranglah saatnya
menyongsong era baru. Tampaknya walaupun pemilihan Roy Suryo pada
awalnya penuh dengan kontroversi, namun untuk permasalahan yang satu
ini, pakar telematika ini pantas untuk diberi acungan jempol. Pola
Ctrl+Alt+Del yang dulu pernah dia ancam akan dilakukan untuk membubarkan
dualisme kepengurusan sepak bola nasional Indonesia tampaknya sedikit
memberi hasil. Walaupun tidak serta-merta dibubarkan, dualisme
kepengurusan tersebut bisa bersatu dan akhirnya FIFA serta AFC memandang
bahwa KLB yang telah dilakukan berjalan dengan sukses.
Ok! Cukup dengan sekilas infonya sekarang mari kita coba bahas
mengenai masa depan Timnas bro, terutama di tengah persiapan mereka
dalam menghadapi Arab Saudi dalam lanjutan Pra Piala Asia 2015 di GBK
tanggal 23 Maret nanti. Bagaimana persiapannya? Bisa dibilang so far so good.
Walapun awalnya sempat dibuat bingung dengan pemecatan Nil Maizar yang
kemudian digantikan oleh Luis Manuel Blanco yang kemudian diangkat
menjadi Direktur Teknik dan akhirnya kursi pelatih ditempatkan pada duet
Rahmad Darmawan dan Jacksen F Tiago. Bisa dibilang sampai saat ini,
duet pelatih tersebut adalah merupakan yang terbaik di Indonesia.
Siapa yang tidak kenal RD yang sudah malang melintang membawa
beberapa tim lokal Indonesia juara berkali-kali di kompetisi lokal.
Begitu juga dengan kompatriotnya saat ini yaitu Jacksen F Tiago. Sang
jagoan dalam mengasah pemain asal Papua – sang Mutiara Hitam yang sangat
kental dengan aroma permainan satu-dua yang menampilkan keahlian
individu dalam diri Persipura Jayapura. Tampaknya duet dua pelatih
kebanggaan ini layak untuk diberikan dukungan bro.
Nah, kali ini kita bahas dari sisi pemilihan pemain. Semenjak adanya
dualisme dan juga munculnya kompetisi tandingan terjadi kekisruhan dalam
hal pemilihan pemain timnas. Entah ketika para pemain IPL tidak boleh
masuk Timnas, dan kemudian pemain giliran pemain ISL yang tidak boleh
masuk timnas hingga akhirnya dua pemain klub IPL dan ISL boleh bersatu
namun dengan catatan kuota pemain dari klub ISL. Pelatih dibuat pusing
jadinya karena tidak bisa memilih pemain terbaik putra bangsa.
Namun setelah adanya persatuan ini, murni semua keputusan ada di
tangan pelatih dan tidak ada lagi kekisruhan. Biarkanlah sang pelatih
leluasa memilih pemain terbaik tanpa harus dicampuri dengan urusan
politik.
Era baru sudah terbentuk bro dan ke depannya, setelah Timnas
terlindungi dalam satu naungan kepengurusan yang baru, utama, dan tidak
tergantikan, segala urusan mulai dari yang paling kecil seperti urusan
sponsor, finansial, pembayaran honor diyakini seharusnya sudah bisa
teratasi. Setelah semua urusan “tetek-bengek” selesai, seharusnya Timnas
bisa berkonsentrasi secara lebih serius untuk mengembangkan kemampuan
dan membawa Tim Garuda Senior menuju puncak tertinggi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar